The Metamorphosis – Franz Kafka, dari sudut pandangku

Buku ini aneh—tapi justru di situlah daya tariknya. Ketika aku membaca halaman pertama dan mendapati Gregor Samsa tiba-tiba berubah menjadi serangga, aku pikir ini hanya cerita fantasi. Tapi ternyata, The Metamorphosis bukan tentang perubahan fisik, melainkan tentang keterasingan, ketidakberdayaan, dan bagaimana manusia bisa perlahan-lahan “dilupakan” hanya karena tak lagi berguna bagi lingkungan sekitar.

Yang membuatku terpaku adalah betapa absurd dan dinginnya respons keluarga Gregor. Mereka tidak benar-benar berduka atau terkejut lama—mereka hanya sibuk menyesuaikan hidup tanpa dia. Aku jadi berpikir: seberapa sering kita membiarkan orang lain terpinggirkan hanya karena mereka tak sesuai harapan kita?

Bahasa Kafka terasa kering dan datar, tapi justru itu yang membuat suasananya terasa sunyi dan sesak. Dalam keheningan itu, penderitaan Gregor terasa lebih nyata. Bagi aku yang suka menulis dan membaca narasi yang menyentuh sisi eksistensial manusia, buku ini seperti tamparan halus: tentang betapa mengerikannya menjadi tak terlihat, bahkan di rumah sendiri.

The Metamorphosis bukan buku panjang, tapi ia meninggalkan bekas yang lama. Ini bukan tentang serangga. Ini tentang kita.

Lewat kisah ini, aku jadi lebih peka terhadap orang-orang di sekitarku—yang mungkin diam-diam sedang merasa sendirian. Kadang yang mereka butuhkan bukan solusi, tapi sekadar ruang untuk tetap diakui sebagai manusia.

Menulis review ini terasa seperti mengobrol dengan diriku sendiri—tentang rasa asing, kehilangan makna, dan ketakutan akan dilupakan. Dan aku rasa, itulah mengapa buku ini akan selalu punya tempat di rak pikiranku.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *